Mangan menyok bakar

June 4, 2007

Langsung saja aku sahut saja tawaran itu. Apa coba? Menyok bakar. Wah aku sangat bersyukur sekali. Bagaimana tidak. Hari ini sudah tidak ada uang lagi untuk makan. Seharian aku hanya makan sekali pas tadi pagi sekitar jam tujuh, begitu juga dengan kemarin. Rencananya besok kalau makan mau ngebon ngutang lagi. Hi.. hi.. Untung si ibu yang punya warung baik hari. “Gak pa pa, kesini aja, walau ga punya uang kan bisa dibayar belakangan” begitu ibu itu sering bilang kalau aku mau makan dengan ngutang. Walau begitu kalau aku ngutang aku usahakan sehari-sehari saja. Jadi sehari hutang, hari berikutnya dibayar, begitu seterusnya. Kan ga enak sendiri kalau hutangnya jadi menumpuk. Ya ga?

Nah malam ini pas lagi ngetik nih, sambil cari-cari contoan literatur untuk laporan biologi, aku menahan lapar. Seandainya ini sudah di kos-kosan pasti aku sudah tidur aja, menahan dan mengubur rasa lapar, kemudian membawanya ke warung bu Mad besok paginya. Tapi pulang juga aku males banget. Untung si Poter datang dan menawarkan si menyok bakar itu. Wah-wah-wah. Menyok khan makanan pokok alternatifku di rumah, yah setidaknya itu juga makanan alternatif keluarga kalau lagi ga punya beras atau jagung. Ya itu dah, sego menyok, atau sego gaplek sebutan di daerah lain. He he cocok nih. Apalagi ini menyok bakar, menyok yang masih segar kemudian dibakar pasti lebih lezat dari pada sego menyok yang dibuat dari menyok yang diparut-diambil patinya-dikeringkan dan baru dimasak itu. Ya rasanya lebih gurih. Lebih mantab.

Lumayan juga. Aku jadi ingat kalau lagi cari kau bakar di tegalan keluargaku dulu. Dimusim kemarau biasanya ku lakukan itu. Memangkas beberapa cabang-cabang besar pohon-pohon kejaran. Membelahnya di sana, ditinggal beberapa hari agar agak kering. Setiap hari melakukan itu dan kalau pulang dengan membawa kayu yang sudah kering hasil belahan hari sebelumnya. Aku biasanya melakukannya di musim kemarau, sering dengan tanpa membawa bekal makanan. Bahkan kadang pernah tidak bawa air minum juga. Jadi aku akan makan menyok dengan menyongkel pohonnya langsung dari di tanah, kemudian membakarnya kalau lapar. Kalau pas tidak bawa air maka usahanya harus lebih ekstra. Cari air di sumur-sumur yang mungkin masih meninggalkan airnya.

Nah pernah suatu hari, aku ke tegal bersama saudara sepupuku, Kak Irfan, anaknya mbaknya ibuku, walau usianya lebih muda aku panggil dia Kakak, ya karena itu tadi, anaknya mbaknya-ibuku. Karena ga bawa bekal makan, maka aku makan dengan menyok bakar, begitu juga karena ga bawa air aku minum air yang berada di batu-batu cadas yang tertinggal di bawah pohon-pohon besar. Demikian juga saudara sepupuku itu aku ajak untuk minum di air yang sama. Ah, sialnya besoknya dia sakit, badannya panas, dan batuk. Wadow aku yang kena. Ibu dan kakanya marah-marah sama aku lantaran telah mengajak dia ke tegal, tidak bawa bekal makanan dan minum dengan air sembarangan kemudian menyebabkan dia sakit. Lha aku kok gak weks, he he kebal kali ya :-) .

Wah kenangan masa lalu, terpampang di pelupuk mataku saat makan menyok bakar malam ini. Enak, dan benar mengganjal perut walau mungkin ada yang tidak percaya ini. Yee mungkin karena orang itu tidak doyan seperti aku. Ha ha ha, uhuk-uhuk- eh keselek.

Udah ngantuk nih, Tidur dulu ahhh, lanjutkan besok aja cari contoan literatur laporannya.