Peringatan Di Hari Ulang Tahunku

August 11, 2007

 

Tanggal 18 juli lalu adalah hari ultahku, sehari setelah aku mengungkapkan dengan terang-terangan rahasia hatiku padamu. Aku tidak terpikir apalagi berfikir untuk memperingatinya, tapi Allah memperingatkan aku tepat dihari ulang tahunku akan suatu kejadian yang pasti kita akan mengalaminya, yaitu kematian.

Hingga aku seusia ini dengan pengalaman mengatarkan jenazah berulangkali, baru kali ini aku ditunjukkan proses pemakaman jenazah dengan begitu detailnya. Saat memperhatikan proses pemakaman itu, entah kenapa hatiku bergetar, aku begitu takut, dan air mataku meleleh. Aku teringat betapa pada saatnya nanti jasadku juga akan terbujur kaku seperti itu. Kulit dan dagingku akan menjadi santapan belatung, dan seandainya tidak dikuburkan pasti akan menimbulkan bau yang sangat busuk. Meninggalkan harta yang kubanggakan dan aku cari dengan susah payah karena dapat meningkatkan status sosial. Meninggalkan keluarga yang aku cintai. Lebih sedih lagi bila ingat bahwa aku tidak tahu keadaan secara pasti di sana. Apakah nanti aku akan ditemani oleh makhluk rupawan yang belum pernah aku lihat di dunia ini? Atau sebaliknya makhluk buruk rupa dan juga belum pernah aku lihat di dunia? Apakah kuburku nanti akan dilapangkan sebagaimana doa para orang yang mensholatinya? Atau malah disempitkan?

Pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab, sebagaimana sulitnya menjawab apakah amalan baik kita akan diterima atau tidak. Sedangkan amalan buruk sudah pasti akan mendapatkan imbalannya. Akhirnya aku hanya bisa berdo’a semoga aku dimatikan dalam keadaan husnul khotimah kelak, demikian juga dengan dirimu wahai sahabatku.

_________________________

Postingan ini adalah potongan catatan harianku versi tulisan tangan yang ditulis tanggal 1 Agustus 2007


Rencana Tuhan Pasti Indah

August 9, 2007

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai,melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil; “anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. ”

Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata:”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah; “Allah, apa yang Engkau lakukan? “Ia menjawab: ” Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”

Kemudian Allah menjawab,” Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.”

_________________________________________

Dikopy paste dari : http://wlteam.tpders.com/?p=8

semoga bermanfaat


Asmaku yang sering kambuh

August 8, 2007

Akhir-akhir ini memang asmaku sering kambuh. Sejak aku ke pergi ke Jombang tepat di hari ulang tahunku, tanggal 18 Juli kemarin. Aku ke Jombang dengan tujuan untuk melakukan takziyah ke rumah temanku sekampus, Coma Eko Utoyo, yang bapaknya meninggal dunia, 17 Juli yang lalu. Aku ke sana dengan mobil sewaan. Mobil yang mestinya hanya dapat diisi maksimal oleh 8 orang penumpang itu terpaksa kami tumpangi dengan 11 orang. Sembilan orang diantaranya adalah teman sekampus, 2 diantaranya adalah soper dan Lia, pacarnya Coma.Saat mulai masuk itu sebenarnya aku sudah mulai merasa. Aku merasa bahwa seolah tidak ada udara yang cukup saat memasuki mobil itu. Sialnya mobil ber-AC, dan jendela ditutup. Jadi lengkap sudah penderitaanku.

Selama dalam perjalanan yang lamanya kurang lebih 5,5 jam itu, aku hanya bisa bertahan. Sesekali aku ambil napas panjang untuk sekedar merasa bahwa aku dapat bernapas dengan nyaman. Untunglah hanya seranga kecil saja, walau aku merasa bahwa badanku sempat bergetar, dan merasa bahwa kesadaranku tidak 100%. Sampai di sana aku merasa lega.

Acara berkunjung itu kami akhiri ketika jenazah sudah selesai dimakamkan. Aku memutuskan tidak kembali ke Jember, melainkan langsung pulang ke Tuban. Dalam kondisi berkendara seperti itu aku takut kejadian beberapa tahun lalu terulang, aku pingsan dan harus dibawa ke UGD. Hii ngeriiii. Apalagi harus melakukan perjalanan hampir 6 jam, di siang hari, dan kemungkinan besar lalu lintas akan padat.

Saat di rumah kondisiku seperti biasa. Mungkin karena tidak banyak alergen yang berpotensi meng-kambuhkan asmaku. Mungkin karena jauh dari perkotaan, udara di desaku begitu segar, sejuk sekali, polusi juga tidak ada, walaupun ada, mungkin juga tidak seberapa. Bernapas di sini begitu melegakan.

Satu minggu aku di rumah. Berbagai pekerjaan rumah yang cukup berat-berat aku kerjakan. Maklum anak keluarga petani. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak khawatir lagi dengan asmaku. Bahkan saat akan kembali ke Jember aku berencana mampir ke rumah Mas Argo di Malang. Tapi tidak jadi karena jadwal akademik sudah mepet.

Baru beberapa hari aku di Jember, asmaku sudah kambuh lagi. Mungkin karena polusi udara di sini, mungkin juga karena banyaknya debu yang ada.

Yah mau bagaimana lagi. Kebetulan memang daerah di kosku tidak semua tanahnya dipaving, demikian juga jalan sepanjan jalan kos-kampus, yakni gang Sadewa ini juga tidak beraspal. Ditambah lagi sisa proyek pembuatan selokan yang ada di depan PSKM yang membekas dan meninggalkan tanah tipis di jalanan yang berpotensi menimbulkan debu jika siang hari. Sepertinya aku harus waspada dengan keadaan lingkungan yang seperti ini.

Sudah seminggu lebih, asmaku slalu datang dan pergi. Tapi aku harus tetap OPTIMIS. Demikian pesan dari sahabatku.


Bagaimanapun Juga Kartu AS Pilihan Terbaikku

August 7, 2007

Beberapa hari ini aku pake kartu IM3. Sering juga aku ganti pake Mentari khusus pada hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu setelah diberi tahu temanku bahwa nelpon dengan Mentari untuk nomor Indonsat yang didaftarkan ternyata murah banget. Hehe baru tahu nih aku.

Dulu aku membangga-banggakan nomor Simpati. Apa gerngan alasannya? Karena bisa juga dipake nelpon murah sesama nomor Telkomsel. Bayangkan saja pada jam 23:00-06:59, tarifnya hanya 150rp/30detik. Kebetulan adikku yang ada di rumah pake Simpati sehingga klop kalau mau telpon-telponan jadi lebih irit. Karena tidak tahan dengan tarifnya yang menurutku mahal akhirnya aku memakai AS.

Sebenarnya aku puas dengan fitur yang dimiliki kartu AS. SMS lebih irit baik kepada sesama operator maupun ke operator lain. Alasan lainnya adalah karena tarif bicara yang dihitung benar-benar per detik. Sehingga kita tidak akan rugi kalau cuma nelpon teman dan cuma mau ngomong “hai kamu di mana? Aku di kosmu sekarang”, “Ya aku di warung tunggu sbentar ya” yang hanya memakan waktu sekitar 5 detik saja. Bandingkan jika memakau kartu lain, pembicaraan akan dihitung per 30 detik dan kita rugi tarif 25 detiknya. Selain itu kartu AS untuk miscol-miscolan juga enak, alasannya sama. Kalau ternyata baik dengan terpaksa atau tidak panggilan kita diangkat biaya yang keluar tidak banyak. Mungkin satu-satunya kekurangan kartu AS adalah isi ulangnya yang mahal.

Kartu SIMPATI. Enak kalau dipake nelpon sesama pengguna Telkomsel antara jam 23:00 hingga 06:59, jam dengan interval ini disebut off peak. Tarifnya murah sebagaimana aku sebutkan tadi, 150rp/30dt. Untuk SMS jika malam hari juga lebih murah. Aku tidak tahu sekarang pastinya, sebab sekarang tidak pake Simpati lagi kecuali untuk keperluan nelpon adikku di rumah.

Wah aku ngantuuk banget. Baru tidur 3 jam. Tidur tadi jam 00 sampai jam 03. Tidur dulu ah waaaaah…………


Kabut di Pagi Ini

August 6, 2007

Di pagi ini udara berkabut lagi. Saat berangkat subuh tadi, belum begitu tebalnya. Hanya selang beberapa menit, sekitar 20 menit kemudian, tebalnya sudah mencapai hingga dua kali lipatnya lebih. Bagi aku yang mengidap ashma, menghirup udara berkabut sama tidak nyamannya dengan menghirup udara berdebu atau berasap.

Udara berkabut merupakan salah satu fenomena alam. Kabut adalah uap air yang berkondensasi menjadi butiran-butiran kecil air. Butiran-butiran kecil air tersebut melayang-layang di udara di dekat permukaan bumi. Saking banyaknya butiran-butiran air itu hingga terlihat dan memperpendek jarak pandang kita.

Umumnya, kabut terbentuk ketika udara yang jenuh uap air mendingin di bawah titik bekunya. Ketika suhu udara turun sedangkan jumlah uap air yang terkandung dalam udara di atas batas jumlah maksimum uap air yang dapat ditahan udara, maka sebagian uap air itu akan berkondensasi menjadi butiran-butiran air tersebut. Kabut akan hilang dengan sendirinya ketika suhu meningkat dan kandungan uap air di udara menurun. Kenapa disebutkan umumnya? Karena tidak semua kabut terbentuk karena proses ini. Kabut asap misalnya.

Kabut memang mirip awan, jikalau awan berada jauh di atas permukaan tanah, maka kabut terjadi dekat permukaan tanah. Jadi kita bisa bayangkan, bagaimana berjalan-jalan seolah-olah di selimuti awan, dengan berjalan-jalan di tengah udara berkabut dipagi hari.

Kabut biasanya terjadi di daerah dingin, atau dataran tinggi. Nah itu biasanya. Tapi kenapa berbeda dengan kenyataan yang ada di Jember (Jember kota) ini? Padahal Jember termasuk kota yang panas seperti daerah dataran rendah lainnya? Bagaimana bisa terjadi?

Di musim kemarau umumnya langit kita tidak tertutup awan, baik di siang hari maupun di malam hari. Awan-awan itu selain membawa uap air sebenarnya juga berfungsi sebagai selimut bagi bumi kita. Jika kita perhatikan, maka kita akan merasakan bahwa di musim kemarau umumnya suhu udara lebih rendah dibanding musim hujan. Karena itu biasanya sholat shubuh akan dirasakan berat karena kita kedinginan di pagi hari itu, dan males untuk mengambil air wudhu, walaupun juga perasaan ini akan menjangkit di musim hujan karena alasan jalanan becek. He he.

Ketika langit tertutup awan, maka pasa bumi yang diperoleh dari terpaan sinar matahari akan dipantulkan ke atas dan mengenai awan tersebut. Kemudian awan juga akan memantulkan panas itu lagi ke bawah. Karena proses ini, udara di bumi terjaga suhunya, dan jika malam hari tidak terlalu ekstrim dinginnya, bahkan kadang-kadang kita akan merasa gerah karenanya. So kipas angin dihidupkan, eh yang punya AC pasti juga pake AC

Berbeda dengan musim kemarau. Ketika langit tidak tertutup awan, panas bumi yang didapat dari sinar matahari dalam sehari akan dipantulkan lagi ke atas. Karena tidak ada yang menghalangi maka panas itu tidak ada yang mengembalikannya lagi ke bumi. Sehingga suhu udara di bumi akan terasa lebih dingin jika di malam hari. Apalagi waktu subuh. Ujian bagi umat muslim. Hal ini dapat dibayangkan jika kita tidur dengan memakai selimut dan tidak.

Nah sekian dulu tulisan ini. Pagi sudah tidak buta lagi. Jadi kabutnya sudah hilang.

Diracik dari:

http://id.wikipedia.org/wiki/Kondensasi, http://id.wikipedia.org/wiki/Kabut, Bagaimana kabut terbentuk?