Peringatan Di Hari Ulang Tahunku

August 11, 2007

 

Tanggal 18 juli lalu adalah hari ultahku, sehari setelah aku mengungkapkan dengan terang-terangan rahasia hatiku padamu. Aku tidak terpikir apalagi berfikir untuk memperingatinya, tapi Allah memperingatkan aku tepat dihari ulang tahunku akan suatu kejadian yang pasti kita akan mengalaminya, yaitu kematian.

Hingga aku seusia ini dengan pengalaman mengatarkan jenazah berulangkali, baru kali ini aku ditunjukkan proses pemakaman jenazah dengan begitu detailnya. Saat memperhatikan proses pemakaman itu, entah kenapa hatiku bergetar, aku begitu takut, dan air mataku meleleh. Aku teringat betapa pada saatnya nanti jasadku juga akan terbujur kaku seperti itu. Kulit dan dagingku akan menjadi santapan belatung, dan seandainya tidak dikuburkan pasti akan menimbulkan bau yang sangat busuk. Meninggalkan harta yang kubanggakan dan aku cari dengan susah payah karena dapat meningkatkan status sosial. Meninggalkan keluarga yang aku cintai. Lebih sedih lagi bila ingat bahwa aku tidak tahu keadaan secara pasti di sana. Apakah nanti aku akan ditemani oleh makhluk rupawan yang belum pernah aku lihat di dunia ini? Atau sebaliknya makhluk buruk rupa dan juga belum pernah aku lihat di dunia? Apakah kuburku nanti akan dilapangkan sebagaimana doa para orang yang mensholatinya? Atau malah disempitkan?

Pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab, sebagaimana sulitnya menjawab apakah amalan baik kita akan diterima atau tidak. Sedangkan amalan buruk sudah pasti akan mendapatkan imbalannya. Akhirnya aku hanya bisa berdo’a semoga aku dimatikan dalam keadaan husnul khotimah kelak, demikian juga dengan dirimu wahai sahabatku.

_________________________

Postingan ini adalah potongan catatan harianku versi tulisan tangan yang ditulis tanggal 1 Agustus 2007


Asmaku yang sering kambuh

August 8, 2007

Akhir-akhir ini memang asmaku sering kambuh. Sejak aku ke pergi ke Jombang tepat di hari ulang tahunku, tanggal 18 Juli kemarin. Aku ke Jombang dengan tujuan untuk melakukan takziyah ke rumah temanku sekampus, Coma Eko Utoyo, yang bapaknya meninggal dunia, 17 Juli yang lalu. Aku ke sana dengan mobil sewaan. Mobil yang mestinya hanya dapat diisi maksimal oleh 8 orang penumpang itu terpaksa kami tumpangi dengan 11 orang. Sembilan orang diantaranya adalah teman sekampus, 2 diantaranya adalah soper dan Lia, pacarnya Coma.Saat mulai masuk itu sebenarnya aku sudah mulai merasa. Aku merasa bahwa seolah tidak ada udara yang cukup saat memasuki mobil itu. Sialnya mobil ber-AC, dan jendela ditutup. Jadi lengkap sudah penderitaanku.

Selama dalam perjalanan yang lamanya kurang lebih 5,5 jam itu, aku hanya bisa bertahan. Sesekali aku ambil napas panjang untuk sekedar merasa bahwa aku dapat bernapas dengan nyaman. Untunglah hanya seranga kecil saja, walau aku merasa bahwa badanku sempat bergetar, dan merasa bahwa kesadaranku tidak 100%. Sampai di sana aku merasa lega.

Acara berkunjung itu kami akhiri ketika jenazah sudah selesai dimakamkan. Aku memutuskan tidak kembali ke Jember, melainkan langsung pulang ke Tuban. Dalam kondisi berkendara seperti itu aku takut kejadian beberapa tahun lalu terulang, aku pingsan dan harus dibawa ke UGD. Hii ngeriiii. Apalagi harus melakukan perjalanan hampir 6 jam, di siang hari, dan kemungkinan besar lalu lintas akan padat.

Saat di rumah kondisiku seperti biasa. Mungkin karena tidak banyak alergen yang berpotensi meng-kambuhkan asmaku. Mungkin karena jauh dari perkotaan, udara di desaku begitu segar, sejuk sekali, polusi juga tidak ada, walaupun ada, mungkin juga tidak seberapa. Bernapas di sini begitu melegakan.

Satu minggu aku di rumah. Berbagai pekerjaan rumah yang cukup berat-berat aku kerjakan. Maklum anak keluarga petani. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak khawatir lagi dengan asmaku. Bahkan saat akan kembali ke Jember aku berencana mampir ke rumah Mas Argo di Malang. Tapi tidak jadi karena jadwal akademik sudah mepet.

Baru beberapa hari aku di Jember, asmaku sudah kambuh lagi. Mungkin karena polusi udara di sini, mungkin juga karena banyaknya debu yang ada.

Yah mau bagaimana lagi. Kebetulan memang daerah di kosku tidak semua tanahnya dipaving, demikian juga jalan sepanjan jalan kos-kampus, yakni gang Sadewa ini juga tidak beraspal. Ditambah lagi sisa proyek pembuatan selokan yang ada di depan PSKM yang membekas dan meninggalkan tanah tipis di jalanan yang berpotensi menimbulkan debu jika siang hari. Sepertinya aku harus waspada dengan keadaan lingkungan yang seperti ini.

Sudah seminggu lebih, asmaku slalu datang dan pergi. Tapi aku harus tetap OPTIMIS. Demikian pesan dari sahabatku.


Bagaimanapun Juga Kartu AS Pilihan Terbaikku

August 7, 2007

Beberapa hari ini aku pake kartu IM3. Sering juga aku ganti pake Mentari khusus pada hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu setelah diberi tahu temanku bahwa nelpon dengan Mentari untuk nomor Indonsat yang didaftarkan ternyata murah banget. Hehe baru tahu nih aku.

Dulu aku membangga-banggakan nomor Simpati. Apa gerngan alasannya? Karena bisa juga dipake nelpon murah sesama nomor Telkomsel. Bayangkan saja pada jam 23:00-06:59, tarifnya hanya 150rp/30detik. Kebetulan adikku yang ada di rumah pake Simpati sehingga klop kalau mau telpon-telponan jadi lebih irit. Karena tidak tahan dengan tarifnya yang menurutku mahal akhirnya aku memakai AS.

Sebenarnya aku puas dengan fitur yang dimiliki kartu AS. SMS lebih irit baik kepada sesama operator maupun ke operator lain. Alasan lainnya adalah karena tarif bicara yang dihitung benar-benar per detik. Sehingga kita tidak akan rugi kalau cuma nelpon teman dan cuma mau ngomong “hai kamu di mana? Aku di kosmu sekarang”, “Ya aku di warung tunggu sbentar ya” yang hanya memakan waktu sekitar 5 detik saja. Bandingkan jika memakau kartu lain, pembicaraan akan dihitung per 30 detik dan kita rugi tarif 25 detiknya. Selain itu kartu AS untuk miscol-miscolan juga enak, alasannya sama. Kalau ternyata baik dengan terpaksa atau tidak panggilan kita diangkat biaya yang keluar tidak banyak. Mungkin satu-satunya kekurangan kartu AS adalah isi ulangnya yang mahal.

Kartu SIMPATI. Enak kalau dipake nelpon sesama pengguna Telkomsel antara jam 23:00 hingga 06:59, jam dengan interval ini disebut off peak. Tarifnya murah sebagaimana aku sebutkan tadi, 150rp/30dt. Untuk SMS jika malam hari juga lebih murah. Aku tidak tahu sekarang pastinya, sebab sekarang tidak pake Simpati lagi kecuali untuk keperluan nelpon adikku di rumah.

Wah aku ngantuuk banget. Baru tidur 3 jam. Tidur tadi jam 00 sampai jam 03. Tidur dulu ah waaaaah…………


Mangan menyok bakar

June 4, 2007

Langsung saja aku sahut saja tawaran itu. Apa coba? Menyok bakar. Wah aku sangat bersyukur sekali. Bagaimana tidak. Hari ini sudah tidak ada uang lagi untuk makan. Seharian aku hanya makan sekali pas tadi pagi sekitar jam tujuh, begitu juga dengan kemarin. Rencananya besok kalau makan mau ngebon ngutang lagi. Hi.. hi.. Untung si ibu yang punya warung baik hari. “Gak pa pa, kesini aja, walau ga punya uang kan bisa dibayar belakangan” begitu ibu itu sering bilang kalau aku mau makan dengan ngutang. Walau begitu kalau aku ngutang aku usahakan sehari-sehari saja. Jadi sehari hutang, hari berikutnya dibayar, begitu seterusnya. Kan ga enak sendiri kalau hutangnya jadi menumpuk. Ya ga?

Nah malam ini pas lagi ngetik nih, sambil cari-cari contoan literatur untuk laporan biologi, aku menahan lapar. Seandainya ini sudah di kos-kosan pasti aku sudah tidur aja, menahan dan mengubur rasa lapar, kemudian membawanya ke warung bu Mad besok paginya. Tapi pulang juga aku males banget. Untung si Poter datang dan menawarkan si menyok bakar itu. Wah-wah-wah. Menyok khan makanan pokok alternatifku di rumah, yah setidaknya itu juga makanan alternatif keluarga kalau lagi ga punya beras atau jagung. Ya itu dah, sego menyok, atau sego gaplek sebutan di daerah lain. He he cocok nih. Apalagi ini menyok bakar, menyok yang masih segar kemudian dibakar pasti lebih lezat dari pada sego menyok yang dibuat dari menyok yang diparut-diambil patinya-dikeringkan dan baru dimasak itu. Ya rasanya lebih gurih. Lebih mantab.

Lumayan juga. Aku jadi ingat kalau lagi cari kau bakar di tegalan keluargaku dulu. Dimusim kemarau biasanya ku lakukan itu. Memangkas beberapa cabang-cabang besar pohon-pohon kejaran. Membelahnya di sana, ditinggal beberapa hari agar agak kering. Setiap hari melakukan itu dan kalau pulang dengan membawa kayu yang sudah kering hasil belahan hari sebelumnya. Aku biasanya melakukannya di musim kemarau, sering dengan tanpa membawa bekal makanan. Bahkan kadang pernah tidak bawa air minum juga. Jadi aku akan makan menyok dengan menyongkel pohonnya langsung dari di tanah, kemudian membakarnya kalau lapar. Kalau pas tidak bawa air maka usahanya harus lebih ekstra. Cari air di sumur-sumur yang mungkin masih meninggalkan airnya.

Nah pernah suatu hari, aku ke tegal bersama saudara sepupuku, Kak Irfan, anaknya mbaknya ibuku, walau usianya lebih muda aku panggil dia Kakak, ya karena itu tadi, anaknya mbaknya-ibuku. Karena ga bawa bekal makan, maka aku makan dengan menyok bakar, begitu juga karena ga bawa air aku minum air yang berada di batu-batu cadas yang tertinggal di bawah pohon-pohon besar. Demikian juga saudara sepupuku itu aku ajak untuk minum di air yang sama. Ah, sialnya besoknya dia sakit, badannya panas, dan batuk. Wadow aku yang kena. Ibu dan kakanya marah-marah sama aku lantaran telah mengajak dia ke tegal, tidak bawa bekal makanan dan minum dengan air sembarangan kemudian menyebabkan dia sakit. Lha aku kok gak weks, he he kebal kali ya :-) .

Wah kenangan masa lalu, terpampang di pelupuk mataku saat makan menyok bakar malam ini. Enak, dan benar mengganjal perut walau mungkin ada yang tidak percaya ini. Yee mungkin karena orang itu tidak doyan seperti aku. Ha ha ha, uhuk-uhuk- eh keselek.

Udah ngantuk nih, Tidur dulu ahhh, lanjutkan besok aja cari contoan literatur laporannya.


Lagu Kenangan

March 29, 2007

He he………… Hari Minggu tanggal 25 kemaren aku stress banget. Iseng-isneg aku buka buka folder temanku yang isinya downloadan lagu dari Multiply yang kelewat buanyak. Aku jadi kepikiran kira-kira ada gak ya lagu favoritku? Cintaku Tak Terbatas Waktu milik Annie Carera cipt. Dedi dores. Hihihihi

Hanya karena untuk memburu lagu ini aku daftar di Multiply.com. Ya Habis biasanya file-file musik disetting agar hanya member Multiply saja yang boleh download. ya apa boleh buat, padahal aku gak begitu suka sama Multiply, tak tau kenapa. Yaaa gak apa lah.

Setelah browsing sebentar akhirnya ketemu. Jadi deh aku bisa dengerin sepuas-puasnya lagu ini. Eh tau nggak ini adalah lagu pop yang pernah sukses dibawakan oleh Dedi Dores sendiri, entah taun berapa ku gak tau. Tahun 1995, kalau gak salah ya, kembali muncul lewat suara Annie Carera, waktu itu aku baru berumur 12 tahun, baru kelas 1 SMP. Hihiiiii. Awalnya aku tidak begitu suka dengan lagu pop, aku lebih suka lagu dangdut terutama lagunya Rhoma Irama, saat aku nonton klip lagu Mbak Annie ini di TV aku juga tidak begitu tertarik. Aku hanya tertarik pada latar tempat klip itu diambil, sebuah pemandangan dengan jembatan besar, yang di kanan kirinya ditumbuhi pohon-pohon besar juga, de el el de el el…….

Nah lama-lama setelah sering nonton klip lagu ini di TV (eh jangan salah ya, aku nonton TV di tetangga lhoooo) aku jadi suka sama lagu ini. Yah akhirnya tercatat dalam sejarah bahwa aku suka lagu pop pertama kali adalah lagunya Annie Carera.

Nah dalam browsing itu aku juga mencari lagunya Bragi, eh Bragi apa Bregi ya? Pokoknya itulah, aku suka lagunya yang syairnya ada “Kuuuuuuuuu panggiil namamuuuuu, disaat kusadariiii………” syukurlah ketemu. Nah saat aku nulis tulisan ini aku juga lagi stress. Syukurlah Ada lagunya Annie Carera sama Bragi.


Di Kereta Api Itu

January 7, 2007

Kemarin aku kembali ke Jember. Dari Malang aku naik kereta api. Satu-satunya kereta api kelas ekonomi yang ada, KA Tawang Alun namanya. Walau kelas ekonomi yah lumayan lah, hampir sama nyamannya dengan kelas bisnis atau ekspress dari kereta lain, dan lebih nyaman lagi dibanding KA KRD yang pernah aku tumpangi sekitar 8 tahun yang lalu saat aku bolos sekolah dulu. Mungkin karena itu ya, tarifnya tidak jauh beda dengan tarifnya bus, yang hanya selisih enam ribu rupiah lebih murah.Seperti juga di bus, pedagang asongan lalu lalang menjajakan jualannya. Ada makanan ringan berkelas ndesit seperti makanan ringanku di rumah semisal tempe goreng, ote-ote, gimbal jagung, tahu dan lain-lain, hingga makanan berat, mainan anak-anak serta beberapa alat tulis dan kantor.

Nah itu semua sudah biasa aku lihat saat naik bus-bus dihari biasanya aku melakukan perjalanan. Adapun yang menarik bagiku adalah adanya tukang sapu di sana.

Sebelum kereta berangkat, sayup-sayup aku dengar dari kursi dibelakangku

“sreek…sreek…sreek” ya rupanya adalah suara sampah bergesekan dengan lantai kereta. Seorang wanita muda muncul dari belakang kursi di mana aku duduk dengan membawa sapu bergagang pendek. Sambil membungkuk dan sesekali menyusup-nyusupkan tangan dan sapunya ke bawah kursi-kursi kereta, wanita dengan sabar menyapu sampah yang ada. Tangan kirinya membawa plastik tebal bekas tempat permen entah Relaxa atau apa. Mulut plastik itu digulung sedikit dan dipertahankan posisinya agar tetap terbuka lebar. Selanjutnya setelah menyapu sekitar kursi di mana orang-orang duduk di situ, belakangnya, samping dan depan kursi, wanita itu menyodorkan plastiknya. Tentu kita semua tahu, wanita itu bermaksud menjual jasanya, dan walaupun kita sudah menikmati jerih payahnya berupa bersihnya keadaan di sekitar kita, wanita itu tidak lantas memaksa agar jasanya dihargai dengan uang. Kadang dia sudah terima dengan hanya uluran tangan yang dikembangkan ke arahnya.

Mengingat wanita itu, aku jadi ingat dengan anak-anak kecil seusia kelas 4 SD yang pernah aku temui di pasar hewan (pasar sapi) di kotaku. Entah percaya atau tidak, aku pernah mengangankan diriku berprofesi sebagai anak-anak kecil tukang sapu di pasar hewan itu. Anak-anak itu tugasnya mirip dengan wanita di kereta itu. Membersihkan lantai truk dari kotoran sapi yang diangkut di atasnya. Kejadian itu aku saksikan di pasar hewan di kotaku saat aku ikut kakekku hendak membeli sapi di sana. Terus terang aku salut dengan anak-anak kecil itu. Waktu itu usia mereka tidak lebih tua daripada aku.

Dua pekerjaan yang dijalani oleh kedua jenis manusia itu sangatlah mulia. Walau mungkin di mata orang lain pekerjaan seperti itu amatlah hina. Ya tentu saja, aku pernah menyaksikan dosenku sendiri (sedikit dibuka ya, dosen itu mengajar aku saat aku semester satu, yang jelas bukan dosen fakultasku) mengolok-olok orang dengan profesi seperti itu. Aneh khan, disaat pekerjaan halal tidak diminati, bahkan dihina dan olok-olok; profesi haram di kejar dan dipuji.


Keindahan Yang Sirna

April 28, 2006

Kali kecil itu membujur dari utara ke selatan, terletak di sebelah barat kosku. Bayanganku, 20 tahun yang lalu mungkin masih mengalirkan airnya yang bening dan segar. Mengaliri sawah di kiri kananya, anak-anak petani mandi dan bermain gembira. Di situ terdapat dam kecil, tempat mengalihkan aliran air ke saluran yang lebih kecil ke arah lain. Tak terbayang lagi betapa besar manfaat saluran kecil itu bagi petani setempat. Kini kali itu memang masih ada, tapi sudah jauh dari apa yang aku bayangkan tersebut. Airnya sih bening, tapi bening-kehitam-hitaman. Kali itu kini sangat dagkal sekali dasarnya, banyak bertumpuk sampah di sana sini baunya pun tidak sedap. Mengenaskan sekali.

Sesaat aku teringat dengan apa yang dikatakan Pak Heru, dosenku, pengampu mata kuliah Pe-Pe-We. Beberapa puluh tahun yang lalu, saat beliau masih muda pernah mengerjakan proyek irigasi di suatu wilayah di Lumajang. Proyek itu memakan biaya yang tidak sedikit tentu saja. Diharapkan proyek itu akan mempermudah petani untuk irigasi lahan pertaniannya, memperkecil input yang harus ditanggung petani dan memperbesar pendapatannya. Lalu apa coba sekarang yang terjadi. Beliau sangat trenyuh saat akhir-akhir ini berkunjung ke sana. Saluran irigasi itu, yang dahulunya di bangun di tengah-tengah sawah kini berubah menjadi di tengah-tengah kota. Yang sangat disayangkan saluran irigasi itu kini mengenaskan nasibnya. Mungkin sama seperti kali kecil saluran irigasi di sebelah kosku.

Kukira keadaan seperti ini bukanlah sesuatu yang langka pada saat ini. Yang aku temui dan yang ditemui oleh Pak Heru mungkin adalah sebagian kecil dari sekian banyak keadaan serupa yang ada di seluruh wilayah Indonesia ini, khususnya Jawa. Salah siapakah? Entahlah, aku juga tak tau.

Suatu hari pernah aku mendengarkan wawancara di radio, sang nara sumber rupanya adalah seorang praktisi yang ada hubungannya dengan dunia pertanian dan juga lingkungan hidup, aku tak tahu secara detail siapa beliau, bagiku itu tidak penting waktu itu. Yang aku ingat hingga saat ini adalah beberapa patah kata yang diungkapkan oleh beliau pada acara tersebut. Katanya, seorang temannya yang sedang studi ke Belanda pernah menceritakan bahwa dia pernah mengetahui dokumen rencana pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pemerintahan Hindia Belanda seandanya Belanda masih tetap langgeng menjajah Indonesia. Intinya dokumen itu menyatakan rencana Belanda untuk menjadikan Pulau Jawa, Bali dan Madura sebagai basis pertanian, Pulau Sumatera sebagai basis industri dan pulau Kalimantan sebagai paru-paru dunia dengan melestarikan hutan tropis yang ada di sana. Hal yang demikian ini tidaklah tanpa dasar. Pemerintahan Hindia Belanda berpendapat bahwa rencana pengembangan itu sudah sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing pulau. Bagiku rencana ini sangat menggiurkan. Tapi entahlah, seandanyai rencana seperti itu terlaksana baik oleh pemerintahan Hindia Belanda (seandainya Belanda masih menjajah) maupun oleh pemerintah Indonesia apakah akan menghasilkan keadaan yang lebih baik dibandingkan keadaan saat ini.

Sebagai putra petani yang dibesarkan di tengah sawah, di bawah terik matahari, di atas ayunan gendong ibuku saat menuai padi, di atas garu-garu yang berjalan pelan ditarik sepasang sapi meratakan tanah untuk tandur padi, aku sangat sedih jika melihat keadaan yang ada saat ini. Lahan-lahan pertanian semakin sempit didesak oleh pembangunan gedung-gedung pencakar mega dan oleh perumahan-perumahan yang tidak pernah mengindahkan lingkungan. Ironisnya lahan-lahan yang dijadikan korban merupakan lahan yang subur, yang produktif, yang menyimpan potensi kehidupan bagi berjuta-juta nyawa. Memang siapa sih yang tidak ingin punya rumah di atas lahan yang baik-produktif, tersedia sumber air bersih, pemandangannya indah dan sejuta kelebihan yang lain.

Tapi lihatlah. Apa yang terjadi jika semua itu dilakukan secara berlebihan dan tanpa memperhitungkan daya dukung yang dimiliki lingkungan itu sendiri. Sekarang ini seiring dengan perkembangan perumahan-perumahan elite juga berkembang perumahan-perumahan elit (ekonomi sulit, aku mengenal istilah ini dari Pak Heru). Sekarang sudah tidak sulit lagi mencari rumah-rumah reot di berdiri miring yang ada di bantaran-bantaran sungai. Yang tidak reotpun banyak di pinggir-pinggir kali kecil saluran irigasi sebagaimana yang sudah aku gambarkan. Keadaannya pun sama, sama-sama mengenaskan, milik rakyat-rakyat yang terpinggirkan.

Aku jadi ingat nyanyiannya Iwan Fals. Aku lupa judulnya. OK tak kasih tahu ya nyanyian yang aku maksud. Demikianlah beberapa patah syairnya:

Kambing sembilan motor tiga bapak punya
Ladang yang luas habis sudah sebagai gantinya
Sampai saat tanah moyangnyaku
Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Iwan tentu sudah melihat keadaan itu sebagaimana yang digambarkan dalam nyanyiannya sejak dua puluh atau tiga tahun yang lalu, saat nyanyian itu diciptakan. Yang membuat aku sedih (semoga saudara juga merasakan hal yang sama) adalah bahwa keadaan seperti ini semakin menjadi. Jikalau kita menyadari, keadaan kita tidak semakin membaik namun malah semakin memburuk. Mungkin yang bisa bisa kita lakukan saat ini adalah memulai segalanya dari diri sendiri. Mengendalikan diri sendiri kadang kita masih sulit, apalagi orang lain. Melakukan hal-hal baik yang memang semestinya kita lakukan merupakan langkah pertama dan utama yang harus ditempuh. Siapa tahu perbuatan baik yang kita lakukan dapat membawa manfaat bagi lingkungan dan menjadi contoh bagi individu-individu yang lain. Memang tidak kelihatan sekaligus saat ini hasilnya. Tapi sepuluh-duapuluh-tigapuluh tahun kemudian, saat oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang saat ini sedang menguasai dunia dan digantikan oleh kita yang saat ini masih muda, dunia kita akan menjadi lebih baik. Amiiin

Benar nggak?


Gara-gara Portuma

January 28, 2006

lega rasanya…..
urus es pe pe sudah…
urus portuma sudah…
tinggal krs-an saja
tapi ada juga sedihnya. itu lho si fitri tidak bisa registrasi karena belum bayar portuma. hai portuma siapa sih kamu? kewajiban dia sebagai mahasiswa lho sudah ditunaikan eeeee malah kamu halangi dia untuk registrasi gara-gara belum bayar sumbangan yang kamu minta. dasar.
kasihan ya fitri. dia tuh anak pinter. tapi sayang jika dia terlambat registrasi gara-gara belum bayar portuma dia akan kena sanksi hanya dapat nempuh maksimal 12 sks.
ah gara-gara portuma ini. bisa-bisa studinya anak-anak pinter seperti si fitri jadi lama. kalauu anaknya agak blo’on kaya’ aku sih nggak pa-pa. awas lho kamu portuma.


nunda espepe

January 26, 2006

Akhirnya selesai sudah aku ngurus penundaan eSPePe. Sudah hari senin yang lalu aku ngurusnya n baru selesai sekarang.
paling lama sih pas nunggu ka-te-U untuk a-ce-ce, trus ke pede 2. ini makan waktu dua hari, senin sama selasa. hari berikutnya ngurus ke kantor pusat untuk ditandatangani sama pe-er 2.
terakhir hari kamis. cukup melelahkan. yang ngurus buanyak sekali. trsu petugasnya cuman satu, namanya pak edit, orangnya kecil dan agak mengetek, tapi sebenernya orangnya baik sekali. Tapi kalau dia lagi kesel pasti setiap mahasiswa yang berurusan dengannya sebel termasuk aku, seperti hari kemis itu.
habis ngurus penundaan aku ke UPT TI dan ngaktivasi status-ku.
lega deh rasanya, setengah perjalanan sudah kulalui, tinggal ngurus portuma


bayar portuma

January 25, 2006

sebenarnya aku belum mandi pas mau datang ke bank untuk bayar iuran portuma dan sumbanyak insidentil. hi.. hi.. habis pagi ini sepertinya dingiiiiiin skali. jadi aku nggak mandi cuma cuci muka tok.
baru ada dua orang pas aku nyampe’ di bank. aku ketemu mas Ghani di sana masih dengan seragam ujiannya sejak kemarin. aku nunggu sambil buka-buka naskahku untuk lomba. maunya sih nunggu sambil nulis gitu. tapi aku nggak bisa. tempatku bukan di keramaian kaya’ gini. akhirnya aku nunggu bank buka hingga satu jam sambil duduk dan bongong-bengon. terpaksa aku nggak mau antri jadi lebih baik nunggu.
tapi tak sesuai rencana bank buka pukul delapan lewat dan sudah banyak mahasiswa yang ngantri bareng aku.
sebel juga aku, habis nunggu sejak pagi tapi tidak dapet pelayanan duluan, memang seeh aku nggak mau berjejal-jejal dengan orang-orang. hii. aku malu. untung ada mas didik di sana mau bayar protuma dan spp, jadi aku cukup ninip dan nunggu sambil duduk-duduk melihat cewe’-cewe’ kece berkeliaran sana-sini.
smakin siang smakin sesak ya. tentu saja. mungkin juga banyak orang yang belum mandi kaya’ aku. hiiiiiii
pulang jam setengah sepuluh. sampai rumah nulis kemudian jum’atan. sorenya ngetik hingga malem….