Akhir-akhir ini memang asmaku sering kambuh. Sejak aku ke pergi ke Jombang tepat di hari ulang tahunku, tanggal 18 Juli kemarin. Aku ke Jombang dengan tujuan untuk melakukan takziyah ke rumah temanku sekampus, Coma Eko Utoyo, yang bapaknya meninggal dunia, 17 Juli yang lalu. Aku ke sana dengan mobil sewaan. Mobil yang mestinya hanya dapat diisi maksimal oleh 8 orang penumpang itu terpaksa kami tumpangi dengan 11 orang. Sembilan orang diantaranya adalah teman sekampus, 2 diantaranya adalah soper dan Lia, pacarnya Coma.Saat mulai masuk itu sebenarnya aku sudah mulai merasa. Aku merasa bahwa seolah tidak ada udara yang cukup saat memasuki mobil itu. Sialnya mobil ber-AC, dan jendela ditutup. Jadi lengkap sudah penderitaanku.
Selama dalam perjalanan yang lamanya kurang lebih 5,5 jam itu, aku hanya bisa bertahan. Sesekali aku ambil napas panjang untuk sekedar merasa bahwa aku dapat bernapas dengan nyaman. Untunglah hanya seranga kecil saja, walau aku merasa bahwa badanku sempat bergetar, dan merasa bahwa kesadaranku tidak 100%. Sampai di sana aku merasa lega.
Acara berkunjung itu kami akhiri ketika jenazah sudah selesai dimakamkan. Aku memutuskan tidak kembali ke Jember, melainkan langsung pulang ke Tuban. Dalam kondisi berkendara seperti itu aku takut kejadian beberapa tahun lalu terulang, aku pingsan dan harus dibawa ke UGD. Hii ngeriiii. Apalagi harus melakukan perjalanan hampir 6 jam, di siang hari, dan kemungkinan besar lalu lintas akan padat.
Saat di rumah kondisiku seperti biasa. Mungkin karena tidak banyak alergen yang berpotensi meng-kambuhkan asmaku. Mungkin karena jauh dari perkotaan, udara di desaku begitu segar, sejuk sekali, polusi juga tidak ada, walaupun ada, mungkin juga tidak seberapa. Bernapas di sini begitu melegakan.
Satu minggu aku di rumah. Berbagai pekerjaan rumah yang cukup berat-berat aku kerjakan. Maklum anak keluarga petani. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak khawatir lagi dengan asmaku. Bahkan saat akan kembali ke Jember aku berencana mampir ke rumah Mas Argo di Malang. Tapi tidak jadi karena jadwal akademik sudah mepet.
Baru beberapa hari aku di Jember, asmaku sudah kambuh lagi. Mungkin karena polusi udara di sini, mungkin juga karena banyaknya debu yang ada.
Yah mau bagaimana lagi. Kebetulan memang daerah di kosku tidak semua tanahnya dipaving, demikian juga jalan sepanjan jalan kos-kampus, yakni gang Sadewa ini juga tidak beraspal. Ditambah lagi sisa proyek pembuatan selokan yang ada di depan PSKM yang membekas dan meninggalkan tanah tipis di jalanan yang berpotensi menimbulkan debu jika siang hari. Sepertinya aku harus waspada dengan keadaan lingkungan yang seperti ini.
Sudah seminggu lebih, asmaku slalu datang dan pergi. Tapi aku harus tetap OPTIMIS. Demikian pesan dari sahabatku.
Posted by busro