Tutorial interaktif

April 9, 2007

Ternyata sama lamanya membuat tutorial model animasi dengan model artikel atau buku. Kemarin selasa aku ngasih les bu ni’am lagi. Ketika aku beritahu bahwa buku yang dimiliki sebagai modal belajar PowerPoint sudah sangat memadai beliau menjawab “Gak sempat baca Dek, malah bingung. Enak langsung gini melihat kemudian praktek langsung”. Ya. Setelah aku pikir-pikir juga memang benar apa yang beliau katakan. Membaca akan dibutuhkan energi lebih apalagi untuk seorang ibu dengan anak kecil yang masih rewel, belum lagi kesibukan beliau lainnya sebagai wirausaha dan pengurus sebuah organisasi yang cukup besar.

Akhirnya terbesit ide untuk membuat suatu tutorial interaktif dalam format animasi atau aplikasi flash. Sebenarnya untuk membuat tutorial semacam ini tidaklah sulit, yang dibutuhkan mungkin hanyalah program perekam layar, komputer dengan hardware dan yang cukup, karena rupanya aplikasi semacam ini akan memakan resource dan space hardisk yang banyak. Salah satu program terbaik menurutku adalah Wink dari DebugMode. Alhamdulillah versi terakhir yang dirilis saat ini sudah dapat memasukkan suara dalam projek yang dibuat. Dibanding versi sebelumnya yang sempat aku pakai sekitar dua tahun yang lalu memang sudah cukup banyak peningkatan fiturnya, namun demikian untuk interface tidak ada perbedaan yang berarti. Program lain yang juga bagus adalah Camtasia, sayang program ini tidak gratis sebagaimana Wink. Perlu diketahui bahwa, Wink, selain gratis juga cross-platform yang tersedia di lingkungan Windows dan Linux.

Nah kembali lagi ke masalah membuat tutorial untuk Bu Ni’am. Setidaknya kubutuhkan waktu lebih dari 5 jam untuk membuat satu topik tutorial yang jika dituangkan dalam tutorial artikel tidak akan lebih dari 5 halaman A4. Ya, mungkin karena banyak pertimbangannya termasuk besarnya file yang dihasilkan. Bagaimana tidak, rencananya selain untuk dipakai ngelesi juga akan aku upload di ilmukomputer.com (IKC), menyusul artikelku lainnya yang sudah di sana, nah kalau satu topik tutorial ukuran filenya sampai 4 MB bagaimana hayo, selain uploadnya lama karena koneksi internetnya suka putus-putus, juga akan memakan space yang buanyak.

Setelah perampingan sana sini akhirnya jadi juga itu tutorial dengan ukuran yang sudah cukup kecil yaitu sekitar 2,3 MB. Bagaimana hasilnya? Yah untuk saat ini belum sempat mengupload mungkin kapan-kapan saja.


Ngilangin Virus Blue Fantasy

April 4, 2007

Tiba-tiba SMS itu datang:

Bro,gmn caranx ngilangi virus bluefantasy?

Sender:
Muklis
+62081334944xxx

Wah temanku yang satu ini aku tak tahu sekarang dia di mana jluntrungnya. Dulu dia adalah temanku sekamar kos di Malang, kuliah di ITN dan dah lulus tahun kemaren.

Saat itu juga aku replay dan mengatakan bahwa kau belum pernah dengar tuh namanya virus. Aku berjanji untuk memberikan solusi setelah lihat-lihat di alam maya dulu. Tapi aku mau praktikum saat itu jadi balasan dia lagi “OK CEPET YO, GPL” aku abaikan.

So sekarang aku sudah selesai praktikum, dan setelah browsing sebentar akhirnya aku tahu berita akan virus ini dari SuaraSurabayaDotNet dan juga dari [ITCENTER] Blue Fantasy. Kabarnya virus ini tidak berbahaya (soale aku sendiri belum ketemu nih, tapi jangan lah yao), jadi jangan panik kalau dia menyambangi komputer teman-teman. Keterangan lebih lanjut tentang virus ini dan bagaimana cara membasminya, silahkan kunjungi: http://vaksin.com/blue_fantasy.htm. Untuk Muklis santai aja ya. Tetap semangat.


Kencan Pertamaku Dengan…

July 15, 2006

Aku mengenal komputer baru saja. Baru setelah aku masuk ke jenjang SMA. Aku bilang baru saja karena banyak ternyata teman-temanku seangkatan yang sudah mengenal komputer lebih dulu. Umumnya mereka sudah belajar komputer dari sejak SMP lewat muatan lokal yang diberikan pada masing-masing SMP di mana mereka belajar.

Saat aku SMA tersebut, aku menginjak kelas dua, tatkala aku merasakan dan makin menyadari betapa tertinggalnya diriku ini tentang teknologi yang satu ini. Kata Istilah Linux sudah tidaklah asing lagi dalam perbendaaraan pikiranku. Kata-kata ini aku kenal dari tabloid Komputek yang aku langgan tiap pekannya. Disamping makin akrab dengan istilah Linux ini, aku juga makin cemas, bagaimana tidak, sering sekali aku dapati pemberitaan bahwa Linux akan menggeser keberadaan Windows sebagai sistem operasi.

Kecemasanku tersebut bukanlah karena aku “mencintai” Windows. Bukan… bukan itu sebabnya. Kecemasanku ini lebih disebabkan karena aku baru saja belajar komputer terutama Windows. Saat itu aku berpikir bagaimana nantinya jika benar bahwa Windows akan digeser Linux seperti halnya DOS digaser oleh Windows sendiri. Rugi dong aku belajar Windows kalau pada akhirnyai ia tidak dipakai lagi oleh para pengguna komputer, tidak dipakai di kantor-kantor, dan mungkin tidak dipakai di komputer di mana aku bekerja nanti….

Aku sedih. Hal ini menilik bahwa di sekolah aku hanya diajari DOS. Di rental-rental, di warnet-warnet aku tidak pernah mendapati orang memakai DOS, yang mereka pakai adalah Windows, kemudian aku belajar Windows mati-matian dan ternyata, pada akhirnya Windows akan digusur oleh Linux. Wah gawat, percuma dong aku belajar komputer khususnya Windows. Huaa…. hua… Hiiiii…….. Heeeeee, tenang-tenang aku tidak menangis kok, hanya bercanda. Demikianlah pikiran yang terlintas dibenakku waktu itu.

Ah, aku makin terbiasa dengan pikiran konyolku tersebut. Selama SMA aku belum pernah melihat wajah Linux sekalipun, melainkan hanya di screenshot-screenshot yang ditampilakn di majalah-majalah maupun tabloid-tabloid komputer yang pernah aku baca. Tapi aku makin giat dan akrab saja belajar Windows hingga aku lulus SMA.

Lulus SMA…………….

Sebenarnya aku ingin kuliah di Fakultas Pertanian………….. Tapi aku sudah terbiasa bekerja, belajar menghidupi penghidupanku, artinya aku ingin kuliah sekaligus bekerja. OK, akhirnya keputusanku adalah belajar lebih mendalam lagi tentang komputer sekitar satu-dua tahun, baru kuliah di pertanian. Karena itu akhirnya aku merantau ke Malang………

Belum ada setahun setelah lulus,

Di awal tahun 2003, pada sebuah pameran komputer yang dilaksanakan di Gedung SAKRI -kalau tidak salah- Universitas Brawijaya (aku sudah lupa sekarang singkatan dari SAKRI), di situlah aku berkenalan dan berkesempatan memandang wajah elegan si Linux ini. Salah satu stand dalam pameran tersebut mendemonstrasikan Linux dengan salah satu komputernya yang sudah dipasangi Linux. Knoppix katanya. Ternyata begitulah wajahnya Linux, bagus sekali. Aku langsung kesengsem kepadanya. Yang membuat aku makin senang adalah kata si penjaga stand tersebut, bahwa Knoppix ini langsung bisa dijalankan dari CD, jadi tidak usah menginstall seperti di Windows, langsung saja booting dari CD, lari sudah.

Mendengar kenyataan seperti itu aku langsung merogoh uang. Katanya dengan uang 5000 rupiah saja sudah dapat dibawa pulang itu si Knoppix, tidak usah membajak Windows, atau membeli yang aslinya dengan harga selangit itu. Saat itu juga sambil menunggu aku di-bakarkan CD Knoppix oleh yang punya stand sudah aku bayangkan, betapa mesranya kencan pertamaku dengan Linux Knopping larut malam nanti. Hiiiii. jadi geli deh aku mengingatnya.

Setelah mendapatkan CD-nya aku pulang ke kos sebentar, bersama Amat, teman akrabku aku ngomong-ngomong ngalor-ngidul tentang Linux ini. Hingga akhirnya kesempatan yang aku tunggu-tunggu ini muncul. Setelah agak malam aku pergi ke rentalnya Mas Argo, dengan memakai salah satu komputer aku jalankan CD Knoppinx yang baru saja aku dapat tadi.

Deng-deng……… hatiku deg-degan untuk melihat tampilan si Knoppix ini, aku bayangkan keindahan tampilannya seperti yang didemonstrasikan di stand tadi, dan aku akan bermain-main sepuas-puasnya malam ini.

Tapi ternyata……… tampilan yang muncul di layar hanyalah layar hitam menakutkan. Ha. Aku kecewa kenapa ini terjadi……….

Oh tidak, kenyataan ini tidak seindah yang aku impikan, tidak seindah yang aku bayangkan. Aku tidak terima, aku telah dibohongi oleh si Pemilik Stand dalam pametan tadi. Sementara itu beberapa pesan yang ditampilkanyang sempat terbaca olehku adalah kurangnya memori, kurangnya space hardisk dan tidak tersedianya swap. Waduh, istilah apa lagi itu.
Pada akhirnya aku mencoba untuk bisa menerima kenyataan ini. Yah ini adalah hal yang biasa, mungkin karena komputernya tidak memenuhi syarat untuk bisa di tumpangi si Knoppix. Aku coba mengingat-ingat beberapa perintah Linux yang pernah aku dapatkan dari beberapa malajalh dan tabloid yang aku baca. Dan ternyata bisa, jadi ternyata hanya seperti DOS saja.

Akhirnya aku belajar sedikit demi sedikit tentang Linux dari layar hitam yang menyeramkan ini. Kenyataannya belajar hal-hal baru amatlah menyenangkan. Dan kenyataan yang tidak terelakkan lagi adalah bahwa kencan pertamaku dengan Linux tidak seindah yang aku bayangkan sebelumnya.

Nah, saudara-saudara semua, bagaimana kencan pertaman Anda dengan Linux? Menyenagkan atau malah mengecewakan seperti kencan pertamaku?