Di pagi ini udara berkabut lagi. Saat berangkat subuh tadi, belum begitu tebalnya. Hanya selang beberapa menit, sekitar 20 menit kemudian, tebalnya sudah mencapai hingga dua kali lipatnya lebih. Bagi aku yang mengidap ashma, menghirup udara berkabut sama tidak nyamannya dengan menghirup udara berdebu atau berasap.
Udara berkabut merupakan salah satu fenomena alam. Kabut adalah uap air yang berkondensasi menjadi butiran-butiran kecil air. Butiran-butiran kecil air tersebut melayang-layang di udara di dekat permukaan bumi. Saking banyaknya butiran-butiran air itu hingga terlihat dan memperpendek jarak pandang kita.
Umumnya, kabut terbentuk ketika udara yang jenuh uap air mendingin di bawah titik bekunya. Ketika suhu udara turun sedangkan jumlah uap air yang terkandung dalam udara di atas batas jumlah maksimum uap air yang dapat ditahan udara, maka sebagian uap air itu akan berkondensasi menjadi butiran-butiran air tersebut. Kabut akan hilang dengan sendirinya ketika suhu meningkat dan kandungan uap air di udara menurun. Kenapa disebutkan umumnya? Karena tidak semua kabut terbentuk karena proses ini. Kabut asap misalnya.
Kabut memang mirip awan, jikalau awan berada jauh di atas permukaan tanah, maka kabut terjadi dekat permukaan tanah. Jadi kita bisa bayangkan, bagaimana berjalan-jalan seolah-olah di selimuti awan, dengan berjalan-jalan di tengah udara berkabut dipagi hari.
Kabut biasanya terjadi di daerah dingin, atau dataran tinggi. Nah itu biasanya. Tapi kenapa berbeda dengan kenyataan yang ada di Jember (Jember kota) ini? Padahal Jember termasuk kota yang panas seperti daerah dataran rendah lainnya? Bagaimana bisa terjadi?
Di musim kemarau umumnya langit kita tidak tertutup awan, baik di siang hari maupun di malam hari. Awan-awan itu selain membawa uap air sebenarnya juga berfungsi sebagai selimut bagi bumi kita. Jika kita perhatikan, maka kita akan merasakan bahwa di musim kemarau umumnya suhu udara lebih rendah dibanding musim hujan. Karena itu biasanya sholat shubuh akan dirasakan berat karena kita kedinginan di pagi hari itu, dan males untuk mengambil air wudhu, walaupun juga perasaan ini akan menjangkit di musim hujan karena alasan jalanan becek. He he.
Ketika langit tertutup awan, maka pasa bumi yang diperoleh dari terpaan sinar matahari akan dipantulkan ke atas dan mengenai awan tersebut. Kemudian awan juga akan memantulkan panas itu lagi ke bawah. Karena proses ini, udara di bumi terjaga suhunya, dan jika malam hari tidak terlalu ekstrim dinginnya, bahkan kadang-kadang kita akan merasa gerah karenanya. So kipas angin dihidupkan, eh yang punya AC pasti juga pake AC
Berbeda dengan musim kemarau. Ketika langit tidak tertutup awan, panas bumi yang didapat dari sinar matahari dalam sehari akan dipantulkan lagi ke atas. Karena tidak ada yang menghalangi maka panas itu tidak ada yang mengembalikannya lagi ke bumi. Sehingga suhu udara di bumi akan terasa lebih dingin jika di malam hari. Apalagi waktu subuh. Ujian bagi umat muslim. Hal ini dapat dibayangkan jika kita tidur dengan memakai selimut dan tidak.
Nah sekian dulu tulisan ini. Pagi sudah tidak buta lagi. Jadi kabutnya sudah hilang.
Diracik dari:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kondensasi, http://id.wikipedia.org/wiki/Kabut, Bagaimana kabut terbentuk?
Posted by buser
Posted by buser