Di Kereta Api Itu

Kemarin aku kembali ke Jember. Dari Malang aku naik kereta api. Satu-satunya kereta api kelas ekonomi yang ada, KA Tawang Alun namanya. Walau kelas ekonomi yah lumayan lah, hampir sama nyamannya dengan kelas bisnis atau ekspress dari kereta lain, dan lebih nyaman lagi dibanding KA KRD yang pernah aku tumpangi sekitar 8 tahun yang lalu saat aku bolos sekolah dulu. Mungkin karena itu ya, tarifnya tidak jauh beda dengan tarifnya bus, yang hanya selisih enam ribu rupiah lebih murah.Seperti juga di bus, pedagang asongan lalu lalang menjajakan jualannya. Ada makanan ringan berkelas ndesit seperti makanan ringanku di rumah semisal tempe goreng, ote-ote, gimbal jagung, tahu dan lain-lain, hingga makanan berat, mainan anak-anak serta beberapa alat tulis dan kantor.

Nah itu semua sudah biasa aku lihat saat naik bus-bus dihari biasanya aku melakukan perjalanan. Adapun yang menarik bagiku adalah adanya tukang sapu di sana.

Sebelum kereta berangkat, sayup-sayup aku dengar dari kursi dibelakangku

“sreek…sreek…sreek” ya rupanya adalah suara sampah bergesekan dengan lantai kereta. Seorang wanita muda muncul dari belakang kursi di mana aku duduk dengan membawa sapu bergagang pendek. Sambil membungkuk dan sesekali menyusup-nyusupkan tangan dan sapunya ke bawah kursi-kursi kereta, wanita dengan sabar menyapu sampah yang ada. Tangan kirinya membawa plastik tebal bekas tempat permen entah Relaxa atau apa. Mulut plastik itu digulung sedikit dan dipertahankan posisinya agar tetap terbuka lebar. Selanjutnya setelah menyapu sekitar kursi di mana orang-orang duduk di situ, belakangnya, samping dan depan kursi, wanita itu menyodorkan plastiknya. Tentu kita semua tahu, wanita itu bermaksud menjual jasanya, dan walaupun kita sudah menikmati jerih payahnya berupa bersihnya keadaan di sekitar kita, wanita itu tidak lantas memaksa agar jasanya dihargai dengan uang. Kadang dia sudah terima dengan hanya uluran tangan yang dikembangkan ke arahnya.

Mengingat wanita itu, aku jadi ingat dengan anak-anak kecil seusia kelas 4 SD yang pernah aku temui di pasar hewan (pasar sapi) di kotaku. Entah percaya atau tidak, aku pernah mengangankan diriku berprofesi sebagai anak-anak kecil tukang sapu di pasar hewan itu. Anak-anak itu tugasnya mirip dengan wanita di kereta itu. Membersihkan lantai truk dari kotoran sapi yang diangkut di atasnya. Kejadian itu aku saksikan di pasar hewan di kotaku saat aku ikut kakekku hendak membeli sapi di sana. Terus terang aku salut dengan anak-anak kecil itu. Waktu itu usia mereka tidak lebih tua daripada aku.

Dua pekerjaan yang dijalani oleh kedua jenis manusia itu sangatlah mulia. Walau mungkin di mata orang lain pekerjaan seperti itu amatlah hina. Ya tentu saja, aku pernah menyaksikan dosenku sendiri (sedikit dibuka ya, dosen itu mengajar aku saat aku semester satu, yang jelas bukan dosen fakultasku) mengolok-olok orang dengan profesi seperti itu. Aneh khan, disaat pekerjaan halal tidak diminati, bahkan dihina dan olok-olok; profesi haram di kejar dan dipuji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: